Minggu, 28 April 2013

Bisnis Penyediaan Menara Telekomunikasi Makin Menjulang

Bisnis Penyediaan Menara Telekomunikasi Makin Menjulang

Menara BTS (Foto: IST)
SPC, Jakarta - Bisnis penyediaan menara telekomunikasi (BTS) di dalam negeri berkembang pesat, karena sejumlah pemain baru bermunculan sejalan dengan ekonomi Indonesia yang tumbuh stabil. 
“Ekonomi Indonesia yang tumbuh di atas enam persen itu menarik bagi pemain baru untuk turut serta dalam bisnis tersebut,” kata Direktur utama PT Tower Bersama Group, Herman Setya Budi, seperti dikutip, Jumat (19/4/2013).
Herman Setya yang didampingi Direktur Keuangan, Helmy Yusman Santoso mengatakan, bisnis infrastruktur terutama bidang telekomunikasi di dalam negeri masih akan terus berkembang ke depannya.
“Kami optimis pasar bisnis tersebut akan makin tumbuh,” ucapnya.
Untuk itu, lanjut dia, perseroan telah mempersiapkan dana yang berasal dari global bond sebesar 300 juta dolar AS dan pinjaman yang belum ditarik sebanyak 210 juta dolar AS.
“Dana tersebut dinilai cukup untuk melakukan pembelian tower, apabila ada penawaran dari operator telekomunikasi, ” katanya.
Ditanya munculnya sejumlah pemain baru, menurut dia, karena Indonesia merupakan tempat yang menarik untuk melakukan kegiatan usaha. Adanya sejumlah pemain baru menunjukkan bisnis infrastruktur dibidang telekomunikasi makin menarik.
Terkait dengan kurs nilai tukar rupiah yang saat ini cenderung mengalami pelemahan, Helmy mengatakan pihaknya tidak mengkhawatirkan kondisi itu dikarenakan perseroan menerapkan sistem “hedging”.
“Kurs tidak masalah karena kami melakukan `hedging`. Sebisa mungkin semua utang di-hedging, tapi bertahap,” kata dia.
Mengenai laba bersih, menurut Direktur keuangan, Helmyu Yusman Santoso, perseroan memperkirakan akan dapat meraih laba bersih sebesar Rp1 triliun.
“Laba bersih sebesar itu lebih tinggi dibanding tahun lalu hanya Rp841 miliar,” ujarnya.
Laba bersih Rp841 miliar itu, lanjut dia akan diambil Rp10 miliar sebagai laba ditahan, sedangkan Rp831 miliar digunakan perseroan untuk semua kegiatan operasional.
“Kami yakin bisnis makin diminati masyarakat karena besarnya kebutuhan terhadap menara telekomunikasi itu,” katanya.
Sementara, terkait rencana anggaran belanja (capex) tahun ini, menurut dia mencapai 250 juta dolar AS yang difokuskan untuk meningkatkan jumlah antena generasi ketiga (3G) seiring dengan kebutuhan akses data masyarakat.
“Penggunaan akses data mencetak pertumbuhan yang cukup signifikan dibandingkan suara dan pesan singkat,” ujarnya.
Per Desember 2012, Tower Bersama Infrastructure memiliki dan mengoperasikan 8.439 situs dengan 13.708 penyewaan. (SPC/25/Yahoo)

Pansus DPRD Telusuri Menara Telekomunikasi di Manado

Jumat, 12 April 2013 | 05:17:40
MANADO (EKSPOSnews): Panitia khusus (Pansus) DPRD Manado bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) serta Dinas Tata Kota turun lapangan lagi mengumpulkan data menara telekomunikasi.
"Kami melihat langsung kondisi menara telekomunikasi milik provider maupun perusahaan penyedia, di Wenang dan Tuminting," kata Ketua Pansus Menara Telekomunikasi Sarifudin Saafa, usai turun lapangan, Kamis 11 April 2013.

Dalam kunjungan tersebut, Saafa minta agar perusahaan memperlihatkan IMB, UPL, UKL dan HO sebagai legalitas berdirinya menara di tengah ataupun jauh dari pemukiman.

Saafa bersama tim Pansus dan gabungan Kominfo serta Dinas Tata Kota Manado juga minta masukan dari para pemilik menara, apa saja kendala dan hambatan dalam pembangunan dan operasionalnya selama ini.

Ia mengatakan, nanti masukan yang disampaikan para pemilik menara tersebut, akan dibahas bersama Pansus dan pemerintah sehingga nantinya Peraturan daerah yang dihasilkan, baik.

Perwakilan dari PT Smartfrend, Wim Talangamin mengatakan masih meminta data dari kantor besar di Makassar, karena di Manado hanya area teknik saja.

"Nanti UPL, UKL dan IMB akan kami perlihatkan, dan copian akan diserahkan kepada Pansus sebagai tanda legalitas operasional kami," kata Wim.

Anggota tim Pansus Widjayanto Patonti, mengatakan berbagai masukan dari pemilik menara maupun provider akan menjadi bahan pertimbangan dalam pembahasan dan finalisasi Perda nantinya.(ant)

2014, Tower Telekomunikasi Akan Ditarik Retribusi

 
27 April 2013 | 07:27 wib
2014, Tower Telekomunikasi Akan Ditarik Retribusi

SOLO, suaramerdeka.com - Pemilik menara telekomunikasi di Solo, harus siap-siap membayar retribusi atas keberadaan towernya. Mulai 2014, Pemkot Surakarta akan memberlakukan penarikan retribusi menara telekomunikasi, yang diperkirakan bisa memberi kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) mencapai Rp 470 juta setahun.
Kasi Telekomunikasi Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Surakarta Surya Dewantara mengungkapkan, draf peraturan wali kota (perwali) sebagai payung hukum penarikan retribusi, saat ini sedang disusun.
"Sembari menunggu draf perwali kelar, kami menyosialisasikan rencana penarikan retribusi ini ke pemilik tower. Sehingga saat aturan retribusi diterapkan, sudah ada pemahaman dari pelaku usaha," katanya.
Dijelaskannya, berdasarkan audit yang dilakukan November 2012 lalu, jumlah tower telekomunikasi yang sudah berdiri (existing) di Kota Bengawan mencapai 145 menara. Dengan jumlah tower sebanyak itu, penarikan retribusi diperkirakan bisa menyumbang PAD Rp 300 juta hingga Rp 470 juta.
Perhitungan retribusi mengacu pada surat Direktorat Jenderal Pajak No.17 Tahun 2003 tentang Petunjuk Teknis Penilaian Bangunan Khusus. Retribusi dihitung maksimal dua persen dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) lokasi menara.
Penetapan retribusi juga mengacu tiga parameter, yakni lokasi, ketinggian dan penggunaan. Dari parameter itu, akan diberikan skor satu hingga tiga, untuk kemudian ditetapkan besaran retribusinya. "Penggunaan menara bersama juga mempengaruhi besaran retribusi. Kalau tower bersama, retribusinya tentu lebih ringan," jelasnya.
Sebagai kompensasi atas pembayaran retribusi tersebut, Pemkot akan menjalankan tugas penataan, pengendalian dan penertiban. "Di draf perwali juga sudah disusun ketentuan soal monitoring, evaluasi dan pengendalian menara telekomunikasi," ujar Surya.